Tentang aku

Sudah bertahun tahun lamanya kemunafikan itu berdiam didalam hatiku, membentuk istana keangkuhan yang memijah keserakahan, iri, dan dengki. Iman telah lama pergi tergradasi pujian yang kian menjadi, kehampaan adalah sahabat sejati hingga titik jenuh itu datang menghempaskanku dalam realitas yang telah lama kuhindari.

Aku mencari jiwaku didalam labirin labirin senja, mengetuk setiap dinding dari jalan yang kulewati, dan aku mulai lelah dengan perjalanan ini hingga akhirnya aku menyadari diriku makin tersesat!.

“Ya Allah, apakah hati ini terlalu kotor? apa hati ini amat munafik? apa hati ini terlalu dangkal untuk menangkap penjelasanMu. semua penjelasanMu yang tergurat di bumi, terlukis dilangit, apakah hati ini terlalu lemah untuk mengerti, untuk memahami….
Bahkan setelah sekian lama, hati ini masih kuyu bertanya: apa arti hidup dan kehidupan? apa makna mati dan kematian?”

Pernah ada suatu masa dimana aku sedikit bisa merasakan kedekatanMu ya Rabb, hingga untuk bertutur dusta saja lidahku kelu, ketenangan batin yang tak mampu aku lukiskan dengan kata kata, kehidupan yang selalu aku ingin berada pada titik itu lagi. namun semuanya perlahan memudar…akh mungkin mereka benar tentang satu hal bahwa manusia lebih tahan terhadap cobaan saat berada pada kondisi yang serba kekurangan dan dengan mudahnya melupakan ketika sedikit nikmat dunia menghampirinya.

Aku merindukan momen momen itu, merindukan 2/3 malam yang hening dan menenangkan, merindukan saat saat aku bersujud dan membasahi sejadahku dengan air mata.

“Ya Rabb, ijinkanlah aku sekali lagi menyembahMu, karena hidup adalah penghambaan, tarian penghambaan yang sempurna, tak ada milik dan pemilik selain Engkau, tak ada punya dan mempunyai selain Engkau.
Ya Rabb, Engkaulah alasan semua kehidupan ini, Engkaulah penjelasan atas semua kehidupan ini, perasaan itu datang dariMu, semua perasaan itu juga akan kembali kepadaMu. kami hanya menerima titipan, dan semua itu ada sungguh karenaMu.
Aku merindukanMu ya Rabb dalam setiap hela nafasku, dalam hatiku yang rapuh, dalam laku dan lisanku.”

Handil, 11 May 2010

Advertisements